Ad Section

7 Alasan Kenapa Perempuan Harus Menempuh Pendidikan yang Lebih Tinggi

Sejatinya pendidikan adalah hak setiap orang. Setiap warga negara tanpa pandang usia dan juga gender. Baik itu pendidikan dasar, menengah apalagi pendidikan tinggi. Seiring berkembangnya waktu, standar pendidikan masyarakat terus bergerak maju. Jikalau dulu masyarakat sudah puas dengan ijazah SLTA/sederajat saja. Namun saat ini, ijazah S1 saja belum cukup rasanya,... sebab masih ada S2 dan S3.

Tapi, ada paradigma "sesat" yang masih cukup kokoh di masyarakat saat ini bahwa cukuplah kaum lelaki saja yang berpendidikan tinggi. Kaum perempuan tidak dianjurkan karena--menurut sebagian orang--perempuan cukup dibekali kemampuan rumah tangga saja. Nah, gimana menurut sobat pelajar dengan paradigma itu? Terkhusus buat kakak-kakak cantik yang lagi baca artikel ini.

Pasti gak setuju lah ya, pasti. Jika kamu setuju dengan paradigma yang bernada skeptis itu, kamu bakal bikin nangis RA Kartini yang sudah capek bersorak-sorak soal emansipasi--pula srikandi-srikandi Indonesia lainnya yang telah memperjuangkan mati-matian hak-hak perempuan. Nah, agar kamu lebih mantap dan melek lagi dengan hak pendidikan tinggi bagi kaum perempuan, tujuh hal di bawah ini harus benar-benar kamu pahami.

#1 Perempuan adalah empu peradaban dan penentu baik atau buruknya sebuah generasi, jadi akan lebih baik jika mereka berpendidikan tinggi

Perempuan berpendidikan untuk bangun generasi (evaigeren.blogspot.co.id)
Secara etimologis arti dari kata "empu" yang menjadi dasar dari kata "Per-empu-an" (dengan awalan "per" dan akhiran "an") adalah hulu atau kepala. Arti lainnya adalah pusat. Sebagaimana empu atau ibu jari yang menjadi pusat dari keempat jari lainnya. Coba deh kamu kepalkan tanganmu. Ada saat di mana empu atau ibu jari ini berada di luar 4 jari lainnya demi melindungi. Ada kalanya empu berada di dalam demi mengayomi. Secara filosofis perempuan adalah ibu jari itu, karena kelak mereka akan menjadi ibu. Perempuan akan menjadi empu peradaban.

Selain berarti hulu atau kepala, empu juga berarti tuan atau pemilik. Perempuan sejatinya adalah pemilik dari peradaban itu sendiri, mereka adalah induk yang melahirkan generasi. Apalagi perempuan itu baik maka baiklah generasi yang dilahirkannya. Dan sebaik-baik perempuan adalah yang berpendidikan tinggi. Karena mendidik generasi itu butuh ilmu, tidak bisa sembarang didik.

#2 Agar kelak di masa depan para perempuan juga dapat berdiri di kaki sendiri dan tidak memberatkan orang lain

Bisa mandiri tentu lebih bagus dong (waktusholat.net)
Lagipula ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya, bukan zaman di mana anak perempuan harus dipingit di rumah dan dikekang haknya untuk memperoleh pendidikan dan membangun karirnya sendiri. Zaman yang seperti itu sudah lama lewat. Zaman ini adalah zaman di mana perempuan berhak untuk berdikari alias berdiri di kakinya sendiri. Menjadi seorang yang mandiri dan tidak memberatkan siapapun--malah hendaknya sebaliknya yaitu meringankan.

Menempuh pendidikan tinggi akan memberikan jalan bagimu kaum perempuan untuk bisa mewujudkan impianmu untuk dapat tumbuh menjadi perempuan tangguh yang mandiri dan bisa diandalkan.

#3 Lagipula Undang-undang dasar bilang, pendidikan adalah hak bagi seluruh warga negara, perempuan kan juga warga negara

Pendidikan adalah hak setiap warga negara, perempuan juga (aminiarin.blogspot.co.id)
Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 udah bilang kalau pendidikan adalah hak setiap warga negara. Dan definisi dari warga negara adalah mereka yang secara hukum merupakan penduduk dari suatu negara tanpa membeda-bedakan apakah ia laki-laki atau bukan.

Hmm, jika dasar dan aturan negara saja tidak membeda-bedakan hak berpendidikan, kenapa masyarakat harus mengkhawatirkan itu? Lagipula semakin banyak warga yang berpendidikan tinggi justru akan semakin baik bagi negara itu sendiri. Jadi buat kamu yang perempuan, jangan mau dibatas-batasi dalam mengecap pendidikan.

#4 Sebab orang-orang yang berilmu ditinggikan derajatnya dan baik di mata Tuhan, perempuan pasti juga pengen masuk ke surga dong ya

(dailymoslem.com)
Dalam ajaran agama Islam, orang-orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya dan diteguhkan kedudukannya. Tentu reward itu bukan hanya untuk kaum lelaki semata. Dan lagi, salah satu amalan yang pahalanya tidak akan putus walaupun seseorang telah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Semakin bermanfaat suatu ilmu bagi orang banyak maka akan semakin banyak pahala yang didapatkan oleh orang yang menebarkan ilmu (kebaikan) itu.

Nah, yang pengen masuk surga kan bukan cuma laki-laki saja, perempuan juga. Jadi, tak perlu minder atau ragu, jika ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ya lanjutkan saja!

#5 Pun jika akhirnya harus jadi wanita karir tidak ada salahnya, justru itu akan lebih membantu terutama ketika kamu sudah bersuami nanti

(dailymoslem.com)
Tak ada aturan baku seorang perempuan tidak boleh untuk menjadi wanita karir. Serius! Bahkan tidak pula dalam agama. Yang dilarang itu hanya perempuan tidak taat kepada suaminya. Nah, kalau pun pada akhirnya seorang perempuan menjadi wanita karir selama ia masih sendiri atau pun ketika ia telah bersuami dan suaminya ridho (ikhlas/rela/woles, bukan nama orang--pen) itu bukanlah masalah.

Justru ketika si istri bisa berpenghasilan akan membantu meringankan beban finansial rumah tangga mereka, atau bisa pula menabung untuk persiapan di masa depan.

#6 Perempuan berhak cerdas dan keluar dari cengkaraman penipuan oleh kaum lelaki yang kadang suka seenak hati

(merdeka.com)
Coba deh kamu bayangin, ketika seorang perempuan dengan pendidikan biasa berpasangan dengan lelaki yang pendidikannya tinggi. Apalagi jika si lelaki ini emang udah dasarnya suka beretorika, ngeles dan banyak akal. Bisa-bisa si perempuan dikibulin terus-menerus dengan omongan lagak intelek dan bahasa-bahasa rumit si lelaki--meskipun tidak semua lelaki itu sama.

Hanya saja, setidaknya, ketika perempuan dan laki-laki sama-sama berilmu, si lelaki akan punya teman berbagi masalah untuk sama-sama mencari solusi. Perempuan yang cerdas tentu punya banyak jalan untuk meringankan beban pasangannya, atau seminimal-minimalnya paham dengan suatu masalah sehingga gak ngotot nuntut ini dan itu saat masalah-masalah membelenggu lelakinya itu.

#7 Karena perempuan yang berilmu pasti berkarisma, dan perempuan karismatik adalah jodoh idaman para lelaki

(vikachew09.blogspot.co.id)
Jujur saja, seorang lelaki tidak hanya menilai seorang perempuan dari parasnya saja. Jika ada perempuan cantik jelita walaupun bak bidadari tapi jika tidak berpendidikan, kecantikan paras itu akan sirna se sirna-sirnanya. Apalagi saat seorang lelaki mencari kandidat yang akan dijadikan isteri, memilih perempuan berpendidikan adalah prioritas nan tinggi, sebab anak-anak yang cerdas lahir dan tumbuh dari ibu yang cerdas pula.

Perempuan berilmu itu pasti berkarisma, dan perempuan karismatik adalah jodoh idaman para lelaki. (Sssttt, para lelaki yang diam-diam membaca artikel ini, apakah kamu setuju?)

Hak untuk menimba ilmu pengetahuan adalah hak setiap orang, bukan hanya untuk gender tertentu saja. Semoga artikel ini membuat kamu, khususnya yang perempuan, sadar bahwa kamu juga butuh pendidikan yang tinggi demi dirimu sendiri, keluarga bahkan bangsa dan agama.

Jika kelak kamu temukan peluang untuk melanjutkan pendidikan itu, tidak perlu berpikir lama dan lama. Yang kamu perlu lakukan hanya meneguhkan hati dan memberikan bukti pada orang-orang yang memiliki paradigma skeptis itu. Buktikan kalau kamu bisa karena kadang mereka--yang memandang skeptis itu--tidak bisa disadarkan dengan kata-kata melainkan harus dengan bukti nyata.

Tentang Pengarang

Blogger Minang
Blogger Minang

Seorang kandidat doktor yang berasal dari kampung kecil di pinggiran pantai Sumatera Barat. Gemar menulis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Blog ini adalah blog lama tentang kampus yang dipublikasikan lagi di bawah subdomain blog utama. Email: hafizulhaq.fadli@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar